Do!” Kamu mau beli kaos ,gerak jalan ,nggak? Kata Arip tetanggaku”, yang juga kakak kelasku di SMAN 1 GONDANG,tanpa minta persetujuan mamaku,aku mengiyakan dengan harga Rp.25.000,00 kubayar dengan uang jajanku.”ma…di sekolahan ada gerak jalan, di kampung kita juga ada gerak jalan, waktunya bersamaan enaknya ikut mana…..?kataku pada mamaku”,kamu ikut memeriahkan di kampung aja, kitakan baru di sini, jadi kita berpatisipasi,” kt mamaku, tapi ingat ya,jangan tawarun, karena denger-denger anak ngembeh kalo ada acara pasti berantem” imbuh mamaku…………beres ma” jawab ku….padahal aku tahu sebelum hari H gerak jalan di adakan malam itu anak ngumpul dirumahku.seperti merundingkan sesuatu di acara gerak jalan, aku masih ingat temanku aries “ nanti kita kalo gerak jalan , kita pakai celana sketer…..!kata aries,” do.kamu ikut biar kamu tahu gimana kalau ikut karang taruna di kampung!,,,,,,kata temanku Boneng,karena itu merupakan pengalaman pertama bagiku,aku menyetujuinya………. esok paginya tgl 17 agustus 2008 pas hari minggu, aku sepertinya nggak sabar untuk menunngu jam 1 siang karena acara gerak jalan diadakan jam 1 siang dengan start lapangan BADUNG dan finish lapangan SMPN 1 DLANGGU,grup kami desa NGEMBEH dapat no 321 dengan memakai kaos berlogo DEWA STRESS,dengan bangga aku melangkah,dari awal aku langkahkan kakiku, yg akhirnya kebangaan itu tak berguna , penyesalan….dari awal….kaki melangkah keliatan banget kalau anak ngembeh yg memulai suatu keributan,tidak jauh dari start lapangan Badung,itu tetanggaku yg biasa aku panggil Mas Novan bleyer-bleyer motornya, “hey…….jangan bleyer-bleyer motor.ini acara gerak jalan!”seru seseorang yg menenteng foto, yang akhirnya aku ketahui kalau beliaunya seorang wartawan, tapi apa yg dilakukan teman-temanku mereka berseru” serbu……….aku juga nggak tahu siapa yg memulai terjadinya pengeroyokan…… “ampun..ampun…………ampun……tapi tidak dihiraukan sama teman-temanku, tapi yang melakukan ini memang teman-temanku tapi bukan peserta gerak jalan, tapi pengiring gerak jalan……..yg memakai kaos DEWA STRES……….aku bisa melihat bapak wartawan lari minta tolong sama grup yang lain.tidak di tolong malah dapat tambahan tendangan, yg akhirnya aku tahu itu grup dari Dusun JUWONO, aku tidak bisa berbuat banyak selain tetap melangkakahkan kaki ….aku pikir setelah mengeroyok wartawan usai sudah aksi yang dilancarkan teman-temanku. Ternyata ,tawuran yg kedua terjadi lagi…masalahnya sepele saling mengejek antar teman, saling menghina.entah karena jiwa muda atau apa?tanpa di komando terjadilah tawuran seluruh peserta dan pengiring yg memakai kaosDEWA STRES , di hajar dengan orang-orang yang memakai kaos PDI yg aku ketahui dari dusun SROYO dan dibantu oleh grup SANTRI GAUL dari Desa Dlanggu,kalo nggak salah itu terjadi di lapangan SMPN 1 DLANGGU, aku tahu teman-temanku yang memakai kaos DEWA STRES salah nggak salah dapat pukulan dari orang yg memakai kaos PDI dan SANTRI GAUL, aku beruntung walau posisiku di tengah-tengah lapangan tapi aku luput dari hantaman orang-orang yang nggak bertanggung jawab!!!dan suatu kebetulan aku memakai kaos rangkap,jadi disaat terjadi tawuran aku lepas kaos DEWA STRESS dan aku memakai kaos biasa.aku nggak ikut-ikut pak! Kata rahman temanku , yang memang dia nggak ikut-ikutan, tapi tetap aja dipukul!dari lapangan SMPN 1 DLANGGU itusemua temanku buyar tak karuan,aku yg celingukan bersama temanku ipan, sekilas melihat teman-temanku lari ke Dusun MOJOKARANG, sesampainya di Balai Dusun Mojokarang aku tidak menyangka tiba-tiba terjadi tawuran yang ke 3 kali,entah siapa yang memulai? kami anak ngembeh mendapat intruksi dan komando ”ambil batu..”!seru seorang temanku yang ada didepan sendiri , disitulah kami saling lempar batu. Aku ikut ambil batu, tapi waktu aku mau lempar ada temanku Tukul ,jangan ikut nglempar !katanya, aku diajak sembunyi di belakang balai dusun MOJOKARANG.dari peristiwa yang terjadi di Mojokarang itu, kami dilaporkan ke POLISI oleh warga SEGARAN dengan tuduhan tawuran , penganiayan & membuat onar di muka umum sehingga membuat seseorang terluka, kami semua mendapat surat pangilan, entah siapa yag melaporkan aku,.Aku mendapat surat pangilan gelombang kedua setelah temanku Aris,dengan surat panggilan sebagai terlapor, tapi sebenarnya pangilan itu aku nggak tahu karena saat itu aku lagi ada acara LDKMS di WISATA DESA kebetulan aku sebagai MPK,jadi mamaku yang memenuhi pangilan itu, tapi bagaimanapun aku tetap memenuhi pangilan itu, kata mamaku, sebagai warga yang baik harus memenuhi pangilan sebisa mungkin dgengan memberiakan keterangan yang jujur dan benar agar bisa menyelesaikan suatu masalah.aku memenuhi pangilan POLISI di dampingi mamaku, dan mungkin hanya aku satu-satunya yang ditemani orang tua.POLISI bertanya macam-macam yang intinya menyudutkan kami semua, misalnya ‘apa kamu ambil batu,”.tanya pak POLISI,”ya saya ambil pak,”jawab aku. “kamu ambil batu, tapi tidak kamu lempar , terus gunanya apa kamu ambil batu,”percuma kamu bohong, teman kamu semua sudah tahu semua kalau kamu ambil batu,”kata pak POLISI lagi, “ Ya…itu terserah mereka yg jelas batu itu tetap saya pegang , hingga kami semua pulang, dan batu itu aku lempar di sawah,:” jawabku, dan mamaku minta untuk meralat, agar surat pangilan itu tidak menyebutkan aku sebagai tersangka, tapi saksi, dan POLISI memenuhi permintaan mamaku,atas keterangan yang aku berikan sama dengan keteranga si pelapor.Atas kesepakatan kedua belah pihak kami patungan Rp50.000,00 untuk membayar korban yang terkena lemparan batu teman-temanku dan untuk mencabut perkara di KEPOLISIAN, dari situ aku tahu ternyata keadilan bisa di beli dengan “uang”.mudah-mudahan aku bisa memetik hikmah dari peristiwa diatas.Dan aku juga baru tahu kalau teman-temanku itu mendaftar atas nama pribadi,karena Pak Lurah tidak menyetujui “KARANG TARUNA”Desa Ngembeh untuk ikut gerak jalan, karena setiap ada kegiatan apapun anak NGEMBEH pasti ada keributan.
Kaku cukupkan disini CERITA PENDEKKU yang juga merupakan pengalam pribadiku, bagi yang membaca bila ada yang tersinggung dengan kata-kataku atau yang lain aku mohon maaf, namun bila dari cerita diatas ada hikmah yang dipetik aku sangat berterima kasih.